Tuesday, January 8, 2013

Multikulturalisme

Multikulturalisme adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan pandangan seseorang tentang ragam kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya (multikultural) yang ada dalam kehidupan masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem, budaya, kebiasaan, dan politik yang mereka anut.
menurut beberapa ahli:
  • “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).
  • Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam kumunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan (“A Multicultural society, then is one that includes several cultural communities with their overlapping but none the less distinc conception of the world, system of [meaning, values, forms of social organizations, historis, customs and practices”; Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
  • Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174).
  • Sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary 1991, Watson 2000).
macam pengertian dan kecenderungan perkembangan konsep serta praktik multikulturalisme yang diungkapkan oleh para ahli, membuat seorang tokoh bernama Parekh (1997:183-185) membedakan lima macam multikulturalisme (Azra, 2007, meringkas uraian Parekh):
  1. Multikulturalisme isolasionis, mengacu pada masyarakat dimana berbagai kelompok kultural menjalankan hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi yang hanya minimal satu sama lain.
  2. Multikulturalisme akomodatif, yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan meraka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di beberapa negara Eropa.
  3. Multikulturalisme otonomis, masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kutural utama berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan menginginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara kolektif bisa diterima. Perhatian pokok-pokok kultural ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok bisa eksis sebagai mitra sejajar.
  4. Multikulturalisme kritikal atau interaktif, yakni masyarakat plural dimana kelompok-kelompok kultural tidak terlalu terfokus (concern) dengan kehidupan kultural otonom; tetapi lebih membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif-perspektif distingtif mereka.
  5. Multikulturalisme kosmopolitan, berusaha menghapus batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat di mana setiap individu tidak lagi terikat kepada budaya tertentu dan, sebaliknya, secara bebas terlibat dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing.
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme

Monday, January 7, 2013

Akulturasi Psikologi

Akulturasi psikologis adalah akulturasi yang terjadi pada psikologis seseorang atau suatu masyarakat, misalnya seseorang yang merantau akan terpengaruh dengan budaya yang ada ditempatnya merantau secara psikologis, seperti pola berpikir atau sifatnya, tetapi tidak membuat ia berubah seutuhnya menjadi seperti orang-orang asli ditempat tersebut.
 
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul ketika suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya akulturasi adalah perubahan sosial budaya dan struktur sosial serta pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Faktor-faktor yang memperkuat potensi akulturasi dalam taraf individu adalah faktor-faktor kepribadian seperti toleransi, kesamaan nilai, mau mengambil resiko, keluesan kognitif, keterbukaan dan sebagainya. Dua budaya yang mempunyai nilai-nilai yang sama akan lebih mudah mengalami akulturasi dibandingkan dengan budaya yang berbeda nilai.
 

Akulturasi dan Relasi Internakulturasi

Definisi budaya secara luas adalah suatu sistem aturan yang dinamis (eksplisit dan implisit) yang di tumbuh-tradisikan oleh kelompok/komunitas tertentu agar tetap eksis keberadaannya. Beberapa faktor yang mempengaruhi budaya salah satunya adalah akulturasi dan internakulturasi.
Menurut Koentjaraningrat, akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Sedangkan   Gillin & Gillin mendefinisikan akulturasi sebagai proses dimana masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda kebudayaannya mengalami perubahan oleh kontak yang sama dan langsung, tetapi dengan tidak sampai kepada pencampuran yang komplit dan bulat dari kedua kebudayaan itu.
Akulturasi dapat terjadi akibat faktor-faktor berikut ini:
Faktor internal, antara lain:
  1. Bertambah atau berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi). Pertambahan penduduk yang sangat cepat menyebabkan terjadinya perubahan struktur dalam masyarakat, terutama lembaga kemasyarakatannya.
  2. Penemuan-penemuan baru
  3. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
  4. Invention : penyempurnaan penemuan baru
  5. Innovation: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada.
    1. Pertentangan (konflik) masyarakat. Pertentangan atau konflik merupakan salah satu sebab terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan. Pertentangan dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok.
    2. Terjadinya pemberontakan atau revolusi. Adanya revolusi atau pemberontakan dalam suatu negara akan menimbulkan perubahan.
Faktor eksternal, antara lain:
  1. Lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia. Terjadinya bencana alam, seperti gempa bumi, meletusnya gunung berapi, banjir besar, angin topan, dan semacamnya mengakibatkan masyarakat harus meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke tempat tinggal yang baru. Mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam yang baru tersebut.
  2. Peperangan. Peperangan dengan negara lain dapat pula mengakibatkan terjadinya perubahan karena biasanya negara yang menang dalam peperangan akan memaksakan kebijakannya terhadap negara yang kalah.
  3. Pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Melalui difusi (penyebaran kebudayaan), akulturasi (pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi) dapat mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan.

Internakultural 
Internakultural (komunikasi antarbudaya) menurut Stewart L. Tubbs, adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (baik dalam ras, etnik, atau sosioekonomi) atau gabungan dari semua perbedaan ini.  Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orang serta berlangsung dari generasi ke generasi.
Hamid Mowlana menyebutkan internakultural sebagai human flow across national boundaries. Misalnya, dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan internakultural sebagai interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya.
sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya
http://www.scribd.com/doc/61861705/akulturasi

Transmisi Budaya dan Biologis serta Awal Perkembangan dan Pengasuhan

Transmisi budaya ialah  kegiatan pengiriman atau penyebaran pesan dari generasi yang satu ke generasi yang lain tentang sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sulit diubah. 
Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. mewariskan budaya dari generasi yang satu ke generasi yang lain melalui sebuah kegiatan pengiriman atau penyebaran sebuah kebiasaan/adat istiadat yang sulit untuk diubah disebut dengan transmisi budaya.
 
Bentuk-bentuk transmisi budaya
 
Terdapat beberapa bentuk dari transmisi budaya antara lain yaitu :
 
a. Enkulturasi
Enkulturasi adalah Proses penerusan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi berikutnya selama hidup seseorang individu dimulai dari institusi keluarga terutama tokoh ibu.
Proses enkulturasi terjadi pada kehidupan sehari-hari saat seorang ibu atau orang tua dalam mendidik anaknya. Nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua akan ditanamkan oleh anak dan dijadikan pedoman untuk bersikap, didikan yang diberikan oleh orang tua tidaklah sama sesuai dengan pola asuh yang diterapkan setiap orang tua, hal ini akan mempengaruhi kepribadian seorang anak nantinya.
 
b.  Akulturasi
Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.
Proses akulturasi akan terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, dimana proses penerimaan suatu kebudayaan baru tersebut terhadap suatu masyarakat yang telah memiliki suatu kebudayaan tentulah tidak mudah, namun suatu kebudayaan baru akan dapat diterima dengan perlahan dan dijadikan suatu kebudayaan dalam suatu kelompok masyarakat tanpa menghilangkan kebudayaan sebelumnya yang ada pada masyarakat tersebut.
 
c. Sosialisasi
Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.
Sosialisasi mengacu pada seluruh proses sosial yang terjadi didalam masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pengaruh transmisi budaya terhadap perkembangan psikologis individu
 
Transmisi budaya yang terjadi di dalam masyarakat tidak terlepas dari peran individu itu sendiri, dimana proses transmisi terjadi dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.
Contohnya, di dalam suatu keluarga transmisi diturunkan dari orang tua kepada anaknya dan seterusnya. Namun dari keturunan yang satu ke keturunan yang berikutnya terkadang memilki pola asuh yang berbeda, dan akan menghasilkan budaya yang berbeda pula dan diikuti oleh perkembangan psikologis yang berbeda pula. Hal inilah yang membuat terjadinya perubahan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Kelekatan orang tua atau pengasuh terhadap anaknya akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologis individu tersebut. Pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis individu.
 
sumber:

PENGERTIAN & TUJUAN PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA SERTA HUBUNGANNYA DENGAN DISIPLIN ILMU LAIN

 A. pengertian
 
a. Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya.
b. Brislin, Lonner, dan Thorndike, (1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.
c. Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.
 
B. tujuan psikologi lintas-budaya
 
Tujuan dari lintas-budaya psikolog adalah untuk melihat manusia dan perilakunya dengan kebudayaan yang ada sangat beragam dengan kebudayaan yang ada disekitar kita. Untuk melihat kedua perilaku universal dan perilaku yang unik untuk mengidentifikasi cara di mana budaya berdampak pada perilaku kita, kehidupan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial dan daerah lainnya.
 
a. J. W Whiting (1968). Ia mengatakan bahwa kita menggunakan psikologi lintas-budaya melalui penggunaan data “beragam orang dari seantero dunia semata-mata untuk menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan perilaku manusia.”
b. Dawson (1971). mengajukan tujuan ini ketika menyatakan bahwa psikologi lintas-budaya dirancang “agar kesahihan universal teori-teori psikologi dapat dikaji secara lebih efektif.”
 
C. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Disiplin Ilmu Lain
 
a. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Sosiologi
Menurut Soejono Sukamto, Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.
Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu sosiologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai buadaya dan kelompok etnik yang berada dalam suatu kehidupan masyarakat.
b. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya.
Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu ekologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok entnik berdasarkan interaksi antara organisme dengan likngkungannya.
c. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Biologi
Biologi atau ilmu hayat adalah ilmu yang mempelajari aspek fisik kehidupan.
Jadi hubungan Psikologi lintas budaya dengan ilmu biologi adalah melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok entnik dengan mempelajari aspek kehidupan fisik makhluk hidup.
 
D. Perbedaan Psikologi Lintas-Budaya dengan Psikologi Indegenous, Psikologi Budaya, dan Antropologi
 
a. Psikologi Indigenous
Indigenous Psychology merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi yang mana merupakan suatu untuk memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya. Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat. Indigenous Psychology merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi yang mana merupakan suatu untuk memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya. Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Psikologi Indigenous adalah Psikologi lintas budaya berfokus pada membicararakan isu, konsep dan metode yang dikembangkan oleh komunitas ilmiah di barat, kebanyakan Amerika Serikat dan Eropa Barat, dan yang dipelajari di timur, kebanyakan negara dunia. Sedangkan Psikologi Indigenous mencakup studi tentang isu dan konsep yang mencerminkan kebutuhan dan realitas dari budaya tertentu dalam hal ini, tentu akan banyak upaya untuk memodifikasi instrumen guna memasukkan perspektif indigenus/setempat.
b. Psikologi Budaya
Psikologi budaya adalah studi tentang cara tradisi budaya dan praktek sosial meregulasikan, mengekspresikan, mentransformasikan dan mengubah psike manusia.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Psikologi budaya adalah Psikologi lintas budaya  melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Psikologi budaya melihat bagaimana budaya dapat mentransformasikan dan mengubah psike seseorang.
c. Antropologi
Menurut Koentjaraningrat, Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Antropologi adalah Psikologi lintas budaya  melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Antropologi melihat bagaimana manusia dalam suatu masyarakat melahirkan suatu kebudayaan.
 
Sumber :
 
berry, J.W., Poortinga, Y.H., Segall M.H., Dasen, P.R. (1999). Psikologi lintas-budaya: Riset dan aplikasi. Jakarta: PT Gramedia Pusaka Utama.

Sunday, June 5, 2011

Lukisan Hidup

tercermin sebuah kebenaran,
yang tanpa kepastian,
dengan lembut menyentuh angan,
yang bukan kenyataan,,

tertegun di eluk-elukan,
luluh yang mengerikan,
kemudian dengan kesadaran,
jatuh yang tak bergantian,,

kemunafikan berjalan,
seirama perwatakan,
seakan hidup hanya bualan,
tanpa perlu kejujuran,,

Wednesday, February 23, 2011

Tentang Hidup

Ternyata hidup adalah seperti permainan. Entah benar atau tidak saya tidak dapat memastikannya. Mengapa saya bisa melihat dan memandang seperti itu ?.
Begitu banyak contoh yang menunjukan kepada kita mengenai permainan dunia politik. Bagaimana bisa seorang koruptor mendapatkan vonis hukuman penjara dan denda yang rendah ?. Akan tetapi bagaimana nasib seorang pencuri pakaian yang mendapatkan siksaan dari masyarakat yang memergokinya ?. Dipukuli hingga babak belur,diberikan vonis oleh pengadilan untuk mendekam di penjara sedemikian lamanya.
Apakah itu hal yang adil ?. menurut saya tidak sama sekali. Dimana keadilan itu ?
Belum lama saya naik angkot, dan melihat adanya 2 oknum yang meminta pungli kepada supir angkot yang saya naiki. Langsung saja saya bertanya, “bang, ngapain abang bayar pungli itu ?”. Dengan santai supir itu menjawab, “terpaksa de, kalo ga dibayar nomor pelat saya di catet, terus nanti keluar terminal saya di tilang polisi de”. Saya bertanya lagi, “jadi orang-orang itu di suruh polisi bang ?”. “ya begitulah de”. Sejenak saya diam, dan berharap hal-hal seperti ini diluruskan.
Permasalahan agama adalah sesuatu hal yang sangat sensitive untuk setiap manusia. Saya yakin setiap orang tahu mengenai hal ini. Lalu, mengapa justru mengenai keyakinan-keyakinan masing-masing kita dijadikan permasalahan ?.
Perlu di garis bawahi, Indonesia adalah Negara yang menganut asas demokrasi!. Dengan demikian saya rasa hal-hal menganai agama tidak perlu menjadi sesuatu hal yang perlu diributkan. Karena setiap agama pasti memiliki nilai kebenaran. Hanya saja “manusianya” yang tidak dapat mencerminkan nilai kebenaran tersebut. Jadi jangan menyalahkan agama !
Apakah anda sudah benar sehingga anda merasa bahwa anda bisa menghakimi orang lain ?
Apakah anda merasa anda sudah paling hebat diantara yang lain ?
Apakan anda merasa tidak pernah berbuat dosa , sehingga anda patut untuk dijadikan panutan oleh segala bangsa ?
Saya pribadi ingin mengatakan, “BARANG SIAPA YANG MERASA TIDAK PERNAH BERDOSA, BOLEHLAH KAMU MENGHAKIMI  SESAMAMU. TETAPI APABILA ANDA MERASA BERDOSA, BENAHI SAJA DIRI KAMU DAHULU SEBELUM KAMU MENGHAKIMI”.
Ini adalah sedikit cerita mengenai makna hidup di dunia sekarang ini. Dimana dengan sejumlah pengalaman hidup yang telah saya lalui.